
Aku benci melihat langit
Aku muak dengan pelangi
Dan aku adalah bagian dari kemunafikan,
yang terkutuk disudut itu
Mata rantai itu telah berkarat!
Dan kau perlu tahu bahwa,
kebahagianku adalah.......
melihatmu tersenyum
Dengan ini, ragaku berdiri.
Dengan ini, jiwaku sendiri.
Dengan ini, hatiku mati.
Kabut Hitam merupakan kumpulan puisi yang pernah kutulis selama menuntut ilmu di SMP dahulu. Kumpulan puisi ini berisi tujuh buah puisi yang ditulis untuk melengkapi tugas Bahasa Indonesia. Semua puisi tersebut pernah kubaca di depan kelas, baik diperhatikan teman-teman atau tidak. Tujuh buah puisi tersebut adalah:
Puisi-puisi tersebut ditulis pada waktu yang berbeda. Sendiri Berdiri dan Lorong Sekarat ditulis saat aku masih berada di kelah VII. Sendiri Berdiri merupakan ungkapan kekecewaan atas kehidupan yang baru kujalani. Aku belajar bahwa sifat polos adalah hal yang hampir mustahil ditemukan pada remaja seumurku. Dan aku adalah orang yang keras kepala. Lorong Sekarat merupakan renungan atas kehidupan yang membuat diriku harus ‘bersikap seperti orang lain’. Hatiku menolak itu semua dan memilih untuk melawan arus.
Pengarung Tua, Penanti Senja dan Pasir Sungai kutulis saat diriku menempati ruang kelas VIII. Dua puisi yaitu Pengarung Tua dan Pasir Sungai berusaha menceritakan pekerjaan-pekerjaan mulia yang seringkali dilupakan oleh orang. Nelayan tradisional harus menantang maut saat melaut walaupun terkadang kembali dengan hasil yang amat sedikit yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari seperti yang kutulis dalam Pengarung Tua. Dan dalam Pasir Sungai, aku menceritakan para pengeruk pasir di sungai yang dalam pekerjaannya sering mencemari sungai. Mereka terbiasa dimaki-maki oleh orang lain, namun mereka terpaksa mengabaikannya karena mereka harus menghidupi keluarganya. Khusus untuk Penanti Sore, ini merupakan humor pibadi yang menceritakan pengalamanku, Tidak dijemput orang tua dari sekolah hingga Maghrib tiba.
Saat menginjak kelas XI. Pikiranku mulai mengkritisi dunia politik
Terima kasih SMP-ku tercinta, dan ingatlah teman-teman, jagalah pertemanan kia ini sampai maut mengetuk relung hati kita. Aku cinta kalian. Terima kasih.
Dengan ini, ragaku berdiri.
Dengan ini, jiwaku sendiri.
Dengan ini, hatiku mati.
Kawanan hijau menerjang kacau
Setan jalanan mulai meracau
Apalah bedanya dengan engkau
Yang menghadang bersenjata kalau
Amarah terpendam sedingin salju
Awan beriringan memanggang kalbu
Mentari hilang terserak membatu
Terpekik oleh desingan peluru
Diktator itu tengah meringkuk
Dari setan jalan dan telur busuk
Berhenti disana, maju terkutuk
Berlindung di balik gubug yang remuk
Sang diktator turun dengan arogan
Menebar makian kemerdekaan
Semua berangsur tertelan pelan
Oleh sorakan gerombolan setan
Saat harusnya cahaya timur bangkit
Saat semestinya burung-burung berkicau
Saat secercah waktu menghangatkan telinga
Berharap angin semilir merentang damai
Tapi, hanya kabut yang menghujam kandas
Kami jengah akan sepi
Kami sekarat terdesak sepi
Masih tertangkap walaupun lirih
Jerit tangis rerumputan kering
Terbenam dalam sampah-sampah berlalat
Yang mengangkasa namun busuk
Beringin tua tersenyum penuh omong kosong
Pada semut-semut disela-sela akarnya
Dikuburnya mereka dengan guguran daun
Kami bergeming dalam tanya
Apakah mereka semua telah mati?
Mereka terdiam seribu bahasa
Hanya ada rintihan dan bualan dalam diri
Yang ditelan keputus asaan
Kami terduduk bersama mereka
Menunggu curahan hujan yang hangat
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "