Pages

Selasa, 01 Juni 2010

Pengarung Tua

 

Di saat matahari terlelap

tiada jangkrik yang bernyanyi

dan orang-orang terbuai

dalam pesona alam khayal

Dia berangkat perang

ditemani sampan rentanya

menerjang air yang bergejolak

menentang badai yang berapi-api

angin darat senantiasa mengantar

dengan hawa yang mencekam jiwa

 

Ditebarlah jalanya ke tengah samudra

senantiasa berharap alam tak akan murka

kepada dirinya yang tercekam sepi

disapa jualah dirinya oleh rembulan dan bintang-bintang

akan tetapi, hati sang pengarung ombak sudah terlalu kering

bagai terhempas ke cadas keras

baginya, mereka telah lama mati

 

Malam pun semakin redup

ikan-ikan seperti enggan memberi rezeki

karena naungan mereka yang dulu permai

kini menangis kesakitan

akibat dijarah tangan-tangan jahil

diracuni limbah dan kotoran

serta diluluh lantakkan pukat harimau

 

Sementara itu, seorang tua sedang terduduk

memandang hampa seisi lautan dari atas sampan rentanya

kini hanya bisa pasrah menanti

tak tahu lagi apa yang mesti dimakan

untuk esok, lusa, hingga ajal memanggil

Ia benar-benar tak tahu

0 komentar:

Posting Komentar