Di saat matahari terlelap
tiada jangkrik yang bernyanyi
dan orang-orang terbuai
dalam pesona alam khayal
Dia berangkat perang
ditemani sampan rentanya
menerjang air yang bergejolak
menentang badai yang berapi-api
angin darat senantiasa mengantar
dengan hawa yang mencekam jiwa
Ditebarlah jalanya ke tengah samudra
senantiasa berharap alam tak akan murka
kepada dirinya yang tercekam sepi
disapa jualah dirinya oleh rembulan dan bintang-bintang
akan tetapi, hati sang pengarung ombak sudah terlalu kering
bagai terhempas ke cadas keras
baginya, mereka telah lama mati
Malam pun semakin redup
ikan-ikan seperti enggan memberi rezeki
karena naungan mereka yang dulu permai
kini menangis kesakitan
akibat dijarah tangan-tangan jahil
diracuni limbah dan kotoran
serta diluluh lantakkan pukat harimau
Sementara itu, seorang tua sedang terduduk
memandang hampa seisi lautan dari atas sampan rentanya
kini hanya bisa pasrah menanti
tak tahu lagi apa yang mesti dimakan
untuk esok, lusa, hingga ajal memanggil
Ia benar-benar tak tahu


0 komentar:
Posting Komentar