Pages

Minggu, 13 Juni 2010

Hitam


Aku benci melihat langit

Aku muak dengan pelangi

Dan aku adalah bagian dari kemunafikan,

yang terkutuk disudut itu

Mata rantai itu telah berkarat!

Dan kau perlu tahu bahwa,

kebahagianku adalah.......

melihatmu tersenyum

Selasa, 08 Juni 2010

Lagu Terpendek di Muka Bumi

You Suffer - Napalm Death




Lagu ini udah dimasukin ke Guinness Book of Records sebagai lagu paling singkat yang direkam dengan durasi tepat 1,316 detik. 'You Suffer' diambil dari album mereka, 'Scum' (1987)

Liriknya : You suffer, but why?

Selasa, 01 Juni 2010

Spectacular Yo-Yo tricks

The Coke Zero & Mentos Rocket Car

Kabut Hitam


Dengan ini, ragaku berdiri.

Dengan ini, jiwaku sendiri.

Dengan ini, hatiku mati.

 

Kabut Hitam merupakan kumpulan puisi yang pernah kutulis selama menuntut ilmu di SMP dahulu. Kumpulan puisi ini berisi tujuh buah puisi yang ditulis untuk melengkapi tugas Bahasa Indonesia. Semua puisi tersebut pernah kubaca di depan kelas, baik diperhatikan teman-teman atau tidak. Tujuh buah puisi tersebut adalah:

 

  1. Sendiri Berdiri
  2. Lorong Sekarat
  3. Pengarung Tua
  4. Penanti Senja
  5. Pasir Sungai
  6. Kami Menanti
  7. Abrasi Diktatorial

 

Puisi-puisi tersebut ditulis pada waktu yang berbeda. Sendiri Berdiri dan Lorong Sekarat ditulis saat aku masih berada di kelah VII. Sendiri Berdiri merupakan ungkapan kekecewaan atas kehidupan yang baru kujalani. Aku belajar bahwa sifat polos adalah hal yang hampir mustahil ditemukan pada remaja seumurku. Dan aku adalah orang yang keras kepala. Lorong Sekarat merupakan renungan atas kehidupan yang membuat diriku harus ‘bersikap seperti orang lain’. Hatiku menolak itu semua dan memilih untuk melawan arus.

 

Pengarung Tua, Penanti Senja dan Pasir Sungai kutulis saat diriku menempati ruang kelas VIII. Dua puisi yaitu Pengarung Tua dan Pasir Sungai berusaha menceritakan pekerjaan-pekerjaan mulia yang seringkali dilupakan oleh orang. Nelayan tradisional harus menantang maut saat melaut walaupun terkadang kembali dengan hasil yang amat sedikit yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari seperti yang kutulis dalam Pengarung Tua. Dan dalam Pasir Sungai, aku menceritakan para pengeruk pasir di sungai yang dalam pekerjaannya sering mencemari sungai. Mereka terbiasa dimaki-maki oleh orang lain, namun mereka terpaksa mengabaikannya karena mereka harus menghidupi keluarganya. Khusus untuk Penanti Sore, ini merupakan humor pibadi yang menceritakan pengalamanku, Tidak dijemput orang tua dari sekolah hingga Maghrib tiba.

 

Saat menginjak kelas XI. Pikiranku mulai mengkritisi dunia politik Indonesia. Hal ini mempengaruhi dua puisi terakhir di masa SMP-ku. Kami Menanti adalah karya yang menggambarkan sikap rakyat dari golongan pekerjaan yang bisa dibilang rendahan terhadap sikap pemerintah baru yang tidak menepati janji-janji saat kampanye. Mereka kecewa akan pemerintah karena mereka adalah golongan lemah yang makin tertindas. Abrasi Dikatorial merupakan imajinasi tentang perobohan dasar negara yang menyebabkan adanya tindakan anarkis di seluruh lapisan masyarakat karena dasar negara tersebut dinilai tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang.

 

Terima kasih SMP-ku tercinta, dan ingatlah teman-teman, jagalah pertemanan kia ini sampai maut mengetuk relung hati kita. Aku cinta kalian. Terima kasih.

 

Dengan ini, ragaku berdiri.

Dengan ini, jiwaku sendiri.

Dengan ini, hatiku mati.

Abrasi Diktatorial

 

Kawanan hijau menerjang kacau

Setan jalanan mulai meracau

Apalah bedanya dengan engkau

Yang menghadang bersenjata kalau

 

Amarah terpendam sedingin salju

Awan beriringan memanggang kalbu

Mentari hilang terserak membatu

Terpekik oleh desingan peluru

 

Diktator itu tengah meringkuk

Dari setan jalan dan telur busuk

Berhenti disana, maju terkutuk

Berlindung di balik gubug yang remuk

 

Sang diktator turun dengan arogan

Menebar makian kemerdekaan

Semua berangsur tertelan pelan

Oleh sorakan gerombolan setan

Kami Menanti

 

Saat harusnya cahaya timur bangkit

Saat semestinya burung-burung berkicau

Saat secercah waktu menghangatkan telinga

Berharap angin semilir merentang damai

Tapi, hanya kabut yang menghujam kandas

Kami jengah akan sepi

Kami sekarat terdesak sepi

 

Masih tertangkap walaupun lirih

Jerit tangis rerumputan kering

Terbenam dalam sampah-sampah berlalat

Yang mengangkasa namun busuk

Beringin tua tersenyum penuh omong kosong

Pada semut-semut disela-sela akarnya

Dikuburnya mereka dengan guguran daun

 

Kami bergeming dalam tanya

Apakah mereka semua telah mati?

Mereka terdiam seribu bahasa

Hanya ada rintihan dan bualan dalam diri

Yang ditelan keputus asaan

Kami terduduk bersama mereka

Menunggu curahan hujan yang hangat

Pasir Sungai

 

Mereka semua terhanyut tenang

Sungai hitam dari buritan

Menderu dengan segenap jiwa

Memutar roda-roda gigi

Yang rusak termakan karat

 

Mereka sering meratapi semua

Dalam tatapan kosong berkabut

Tentang aliran, tentang kibasan

Hidup mereka memang begini

Jauh dari emas, dekat dengan racun

Mereka sebenarnya tahu

 

Mereka mengais rezeki

Untuk hunian, untuk makanan

Orang-orang tak berpikiran mencela

Bahwa mereka petaka air

Mereka hanya tak acuh

Dan terus mengais di bawah air

Keluarga, harus diganjal perutnya

Penanti Senja

 

Dalam hiruk-pikuk keramaian,

Adapun dia di jalan depan,

Kebingungan terlihat dalam tatapan,

Untuk menahan segala ratapan.

 

Lalu lalang manusia dihadapannya,

Anak itu tiada bertanya,

Geraman mesin membisingkan semuanya,

Inilah waktu di hadapannya.

 

Enggan tampaknya roda bergerak,

Rasa hatinya ingin berteriak serak,

Orang di sekitar pergi pada senja berarak,

Runtuhkan semangatnya hingga terserak.

 

Begitu lama dirinya menanti,

Guna mendapat ketentraman hati,

Tetapi setelah datang yang dirinya nanti,

Zaman seakan telah berganti.

Pengarung Tua

 

Di saat matahari terlelap

tiada jangkrik yang bernyanyi

dan orang-orang terbuai

dalam pesona alam khayal

Dia berangkat perang

ditemani sampan rentanya

menerjang air yang bergejolak

menentang badai yang berapi-api

angin darat senantiasa mengantar

dengan hawa yang mencekam jiwa

 

Ditebarlah jalanya ke tengah samudra

senantiasa berharap alam tak akan murka

kepada dirinya yang tercekam sepi

disapa jualah dirinya oleh rembulan dan bintang-bintang

akan tetapi, hati sang pengarung ombak sudah terlalu kering

bagai terhempas ke cadas keras

baginya, mereka telah lama mati

 

Malam pun semakin redup

ikan-ikan seperti enggan memberi rezeki

karena naungan mereka yang dulu permai

kini menangis kesakitan

akibat dijarah tangan-tangan jahil

diracuni limbah dan kotoran

serta diluluh lantakkan pukat harimau

 

Sementara itu, seorang tua sedang terduduk

memandang hampa seisi lautan dari atas sampan rentanya

kini hanya bisa pasrah menanti

tak tahu lagi apa yang mesti dimakan

untuk esok, lusa, hingga ajal memanggil

Ia benar-benar tak tahu

Lorong Sekarat


Dalam kesenyapan malam

Tiada jangkrik yang bernyanyi

Aku terdiam dalam sepi

Hanyut dalam renungan yang menusuk jiwa

Kucoba untuk mengerti

Tetapi, hati ini telah mengering

Terhempas ke karang terjal

 

Terus kucoba lalui lorong ini

Menuju titik terang di ujung sana

Akan tetapi, lorong ini semakin terjal

 

Dan kalian,

Akankah kalian mengulurkan tangan

Atau kalian, Aku, Mati.

Sendiri Berdiri


Di butanya pagi

Satu per satu parit kulompati

Hati menangis menghibur diri

Berharap maut tak akan berdiri

 

Waktu semakin terang

Jalan yang kususuri masih panjang

Tiada girang ataupun siang

Hanya malam yang makin berang

 

Di kehidupan yang fana

Banyak terdapat fatamorgana

 

Orang yang terlihat suci

Dalam diri ia keji

 

Orang yang terlihat sabar

Dalam hati ia sesumbar

 

Sementara kini

Tiada orang memandang diri

Aku sendiri

Berdiri meratapi

Akankah disini

Kumati sendiri