Dengan ini, ragaku berdiri.
Dengan ini, jiwaku sendiri.
Dengan ini, hatiku mati.
Kabut Hitam merupakan kumpulan puisi yang pernah kutulis selama menuntut ilmu di SMP dahulu. Kumpulan puisi ini berisi tujuh buah puisi yang ditulis untuk melengkapi tugas Bahasa Indonesia. Semua puisi tersebut pernah kubaca di depan kelas, baik diperhatikan teman-teman atau tidak. Tujuh buah puisi tersebut adalah:
- Sendiri Berdiri
- Lorong Sekarat
- Pengarung Tua
- Penanti Senja
- Pasir Sungai
- Kami Menanti
- Abrasi Diktatorial
Puisi-puisi tersebut ditulis pada waktu yang berbeda. Sendiri Berdiri dan Lorong Sekarat ditulis saat aku masih berada di kelah VII. Sendiri Berdiri merupakan ungkapan kekecewaan atas kehidupan yang baru kujalani. Aku belajar bahwa sifat polos adalah hal yang hampir mustahil ditemukan pada remaja seumurku. Dan aku adalah orang yang keras kepala. Lorong Sekarat merupakan renungan atas kehidupan yang membuat diriku harus ‘bersikap seperti orang lain’. Hatiku menolak itu semua dan memilih untuk melawan arus.
Pengarung Tua, Penanti Senja dan Pasir Sungai kutulis saat diriku menempati ruang kelas VIII. Dua puisi yaitu Pengarung Tua dan Pasir Sungai berusaha menceritakan pekerjaan-pekerjaan mulia yang seringkali dilupakan oleh orang. Nelayan tradisional harus menantang maut saat melaut walaupun terkadang kembali dengan hasil yang amat sedikit yang bahkan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari seperti yang kutulis dalam Pengarung Tua. Dan dalam Pasir Sungai, aku menceritakan para pengeruk pasir di sungai yang dalam pekerjaannya sering mencemari sungai. Mereka terbiasa dimaki-maki oleh orang lain, namun mereka terpaksa mengabaikannya karena mereka harus menghidupi keluarganya. Khusus untuk Penanti Sore, ini merupakan humor pibadi yang menceritakan pengalamanku, Tidak dijemput orang tua dari sekolah hingga Maghrib tiba.
Saat menginjak kelas XI. Pikiranku mulai mengkritisi dunia politik
Terima kasih SMP-ku tercinta, dan ingatlah teman-teman, jagalah pertemanan kia ini sampai maut mengetuk relung hati kita. Aku cinta kalian. Terima kasih.
Dengan ini, ragaku berdiri.
Dengan ini, jiwaku sendiri.
Dengan ini, hatiku mati.


1 komentar:
Time sure blitz away
Posting Komentar